Aku suka malam. Malam itu banyak diam. Tidak berisik. Dan aku suka menuangkan cerita saat malam.
Aku suka malam. Karena pada malam hari, gedung-gedung tinggi terlihat cantik dibanding pagi hari.
Aku suka malam. Bukan karena ada bintang, tapi karena malam selalu menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita.
Aku suka malam. Malam adalah pendengar yang paling baik.
Cerita yang kutuangkan, tak selamanya bahagia. Ada kisah sedih, kecewa, sakit, dan rindu mungkin.
Meski begitu, malam tak pernah mengeluh. Karena malam akan menjadi ruang yang setia untukku.
Aku suka malam. Meski gelap, malam tetap dapat memberikan ketenangan.
Aku suka malam.
MirandaNurHusna
Minggu, 20 Agustus 2017
Sabtu, 01 Juli 2017
Pagi,Juli
Pagi yang sejuk. Embun pagi terlihat masih menyelimuti
daun-daun di halaman depan. Pagi yang
memberikan satu pertanyaan yang baru.
Sebuah pertanyaan yang tidak tahu kapan ada jawabannya. Sebuah
pertanyaan yang hanya bisa dipikir dan dijawab kepada diri sendiri.
Seorang gadis duduk di pelataran kafe bernuansa hijau, tak
ada yang bisa ia lakukan kecuali terus menulis sambil mengamati jalan,
terkadang juga orang-orang yang datang ke kafe bergaya klasik itu. Ia samar-samar
melihat pasangan muda yang sepertinya mereka berpacaran karena sang laki-laki
sibuk menggandeng tangan perempuannya sambil terus saling melemparkan senyum
termanis masing-masing.
Gadis itu melihat juga seorang pria berumur sekitar 20-23
tahun sudah duduk sendirian menghadap jendela besar di depannya. Pria itu berbadan tegap dengan kemeja
kotak-kotak berwarna biru terus menyeruput kopi panasnya.
Selain itu ada pula beberapa gadis yang tertawa
terbahak-bahak karena mendegar lelucon seorang temannya yang sudah dipastikan
membicarakan teman lainnya.
Dan terakhir, gadis itu sendiri sibuk dengan laptopnya
menulis apa yang ia lihat dan rasakan.
Beberapa waktu lalu, ia baru saja memilih, memilih sebuah
pilihan yang seumur hidupnya tak pernah ingin itu terjadi dalam hidupnya.
Gadis itu pernah mencintai seseorang yang sangat teramat
hingga ia tidak bisa merasakan cinta lain. Bertahun-tahun ia hanya bisa
memendam saja, hingga sakit hingga lelah.
Gadis itu terus menyimpan laki-laki yang pernah
memberikannya sebuah harapan yang tidak jelas di dalam hatinya.
Satu, dua tahun.. gadis itu terlalu lelah, gadis itu tidak
punya harapan. Laki-laki itu sudah jauh, sangat jauh, dan mungkin sudah
melupakannya.
Beberapa bulan terakhir, seorang pria datang, entah
bagaimana Tuhan menghadirkannya dalam kehidupan gadis itu. Yang jelas, pria itu
bisa menjadi penyejuk bagi gadis itu.
Pria itu datang seperti memberikan sebuah pemahaman mengenai
cinta yang baru. Dan gadis itu mulai jatuh cinta kepada pria itu, tentunya
dengan pemahaman arti cinta yang baru.
Tapi bagaimana jika tiba-tiba laki-laki yang dulu menghilang
datang? Bagaimana jika tiba-tiba laki-laki yang dulu dicinta hadir dengan
memberikan sebuah penjelasan? Penjelasan
yang cukup menjelaskan mengapa ia meninggalkan gadis itu waktu dulu.
Gadis itu hanya bisa diam ketika mendapati penjelasan itu. Gadis
itu masih diam saat pria itu ingin memperbaiki semua, gadis itu masih terdiam
saat pria itu bertanya, “ Apa sudah terlambat?”
Gadis itu tak mau merespon apapun lagi, berkali-kali pria
itu mencoba membuat gadis itu menyukainya kembali. Berkali-kali pun ia menepis bahwa semua sudah berlalu,
semua tidak bisa terulang lagi.
Bagaimana bisa? Kini gadis itu sudah jatuh dalam hati lain. Hati
yang terlalu indah untuk disakiti apalagi dikhianati.
Pria yang bertahun-tahun
menghilang, datang lalu hanya berkata, “Maaf, apa sudah terlambat?”
Pria yang tidak punya kejelasan bertahun-tahun lalu datang
dan berkata, “Apa tidak bisa kita saling melupakan yang lalu, dan memulai yang
baru?”
Gadis itu tidak tahu dan juga tidak ingin menyalahi takdir
yang ada. Ia datang kembali bukan karena inginnya, justru gadis itu sudah lama
mengikhlaskan semuanya. Bahkan sudah mengikhlaskan pria itu.
Gadis itu sudah memulai lembaran baru. Sungguh. Ia sudah
mencintai hati yang lain. Pria yang berusaha menjaga perasaannya, menjaganya,
bahkan mencoba membahagiakannya. Pria yang berusaha untuk selalu ada, di mana
pun dan kapan pun.
Bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta? Pria itu adalah apa
yang ia doakan selama ini. Pria yang diinginkannya sejak lama.
Namun, gadis itu tidak bisa diam lagi ketika pria yang dulu
ia cinta memintanya untuk memilih. Memilih
untuk bersamanya atau dengan hati yang baru.
Dan gadis itu sudah memilih.
Gadis itu memang tidak tahu apa yang akan terjadi
setelahnya, gadis itu pun tidak tahu apa hati yang baru ia pilih mungkin akan menyakitinya
lagi atau tidak, namun setidaknya gadis itu sudah memilih hal yang baik
menurutnya.
Tak terasa waktu berlalu cepat, gadis itu pergi meninggalkan kafe sambil memeluk laptop dan memasukinya ke dalam mobilnya.
Gadis itu harus menemui hati yang baru yang sudah ia pilih untuk dapat membuatnya bahagia. Dengan pemahaman cinta yang baru, gadis itu ingin sekali bahagia.
Senin, 22 Mei 2017
Senja
Senja kadang
memiliki banyak cerita. Seperti senja di bulan Mei ini. Senja yang memiliki
banyak arti untuk sebagian orang. Termasuk untuk seseorang yang mungkin sedang
merasa beruntung.
Bagaimana ia
tak merasa beruntung karena sepertinya Tuhan banyak mengabulkan doa-doanya
secepat kilat. Bagaimana ia tak merasa beruntung karena ia bisa dipertemukan
dengan sosok yang sangat baik. Sangat lucu. Sama lucunya dengan awal mula
mereka dapat bertemu.
Ia mungkin
tak dapat mengungkapkan semuanya sekarang karena baginya mungkin ini terlalu
cepat walau perasaan seperti meronta ingin segera mengeluarkan semua yang
dipendam.
Satu bulan
yang sangat singkat hingga ia merasa sangat beruntung. Beruntung karena merasa
dihargai sekaligus dihormati oleh seseorang di luar sana. Beruntung karena ia
merasa seperti seorang putri yang sangat berharga. Beruntung,karena ia merasa
ia tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Kadang, ia berpikir apa
mungkin ada seseorang sebaik itu? Kadang ia berpikir apa ada seseorang yang
mampu memperlakukan ia seperti itu?
Jujur saja,
kadang ia sungguh sangat takut. Takut mungkin ini hanya mimpi atau ini hanya
sebentar saja. Namun, semakin ia berpikir tentang itu, ia semakin terjebak
dengan perasaannya sendiri. Perasaan yang sungguh sangat sulit dijelaskan
dengan sebuah cerpen.
Dan, Senja
ini mengajarkan tentang banyak hal. Tentang bagaimana cara bersyukur dan
menerima semuanya dengan lapang dada. Senja kali ini mengajarkan tentang bahwa
seseorang yang tepat kadang datang di waktu yang belum tentu tepat namun tetap
dengan cara yang tepat.
Senja di hari ini mengajarkanku untuk
berterima kasih, berterima kasih kepada Tuhan atas semua yang selalu diberikan
tanpa diminta. Berterima kasih kepada semua yang datang dan pergi. Berterima
kasih kepada dia. Terima kasih. Terima kasih karena sudah membuat diri merasa
beruntung. Bahkan terkadang, saking merasa beruntungnya diri, ia selalu merasa
tak pantas mendapatkannya, mendapatkan semua perhatian yang tumbuh dengan
tulus.
Senja di
luar sana hampir tenggelam, tapi semakin hilang cahayanya, langit semakin
indah.
Senja
sebagai penutup di hari ini.
Bolehkah ia
merasa bahagia?
Jumat, 12 Mei 2017
Mei
Malam yang
panjang dan melelahkan. Lelah tapi ingin
tetap berbagi. Berbagi dalam satu buah tulisan malam ini.
Kau tahu, dulu, seseorang pernah mengalami proses yang
panjang dalam urusan perasaan. Mencintai lalu disakiti kemudian ditinggalkan
begitu saja. Dia juga pernah merasakan bagaimana rasanya tidak dihargai atau
hanya dimanfaatkan untuk suatu kepentingan.
Tapi, hari
ini, seseorang di luar sana, mungkin mengubah semua pemikiran itu. Seseorang yang
menjadi inspirasinya malam ini. Jika kau tanya alasan mengapa dia adalah
inspirasi, maka jawabannya, tidak ada alasan.
Sungguh, aku
hanya ingin menulis tentang inspirasi malam ini. Malam ke 12 di bulan Mei ini.
Seseorang yang
sangat lucu, mudah sekali membuat tertawa, menyenangkan, baik, dan membuat
semua orang merasa dihargai jika berada di dekatnya. Bukan sekadar menyenangkan
namun juga meneduhkan.
Mungkin
beberapa orang akan merasakan kebahagiaan jika melihatnya berbicara hal yang
lucu dengan mimik muka datar seperti yang ia lakukan. Mungkin beberapa orang
akan merasakan rasa aman karena ia tak mau meninggalkan seseorang sendirian
tanpa ditemaninya, atau mungkin beberapa orang merasakan rasa nyaman karena ia
sungguh sangat meneduhkan.
Semua hanya kemungkinan-kemungkinan
yang mungkin dirasakan beberpa orang di sekitarnya. Ya, beberapa orang. Entah satu,
dua, atau lebih.Mungkin, dia memang memberikan perhatian dan sikap yang hangat kepada semua orang yang dekat dengannya.
Inspirasi malam
ini, dia tak pernah berhenti bertanya tentang hal-hal sepele yang terkadang
membuat seseorang merasa dihargai.
Mungkin,
baik dia maupun seseorang pernah merasakan rasa kecewa, sakit hati, dan
diabaikan tapi entah kenapa rasanya tidak terlalu buruk jika membicarakan rasa
kecewa dengannya.
Terima kasih,
Inspirasi.
Kamis, 06 April 2017
Thank You, April!
Apakah aku masih
boleh untuk merasa seperti ini? Merasa sekujur kaki lemah serasa aliran
darah deras mengalir dan merasa tangan gemetar. Ditambah jantung yang terus
berdebar hanya karenamu.
Karena sebuah kalimat pendek.
Kenapa aku harus begitu? Padahal aku tak perlu merasakan
rasa seperti itu bukan? Kau mungkin menganggap ini biasa saja.
Namun, bagiku mengapa itu sangat berarti.
Aku berani bertaruh semalam aku bahkan sudah ikhlas untuk
takkan mendapat apapun lagi darimu, bahkan sebuah kalimat.
Namun, mengapa di malam terakhir, di tanggal 6 ini, kau
justru hadir dengan sebuah kalimat pendek yang membuatku takut.
Aku benci diriku sendiri, sungguh. Aku benci dengan diriku
yang terus memilih bertahan. Padahal, aku tahu
kau tak mungkin menoleh ke arahku lagi. Tak mungkin.
Takkan pernah mungkin.
Lalu, mengapa sulit bagiku untuk melupakan semua yang
terjadi? Mengapa sulit bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal padamu dalam
pikiranku sendiri?
Aku benci ini. Aku benci
diriku yang sulit memahami situasi bodoh ini.
Aku benci kamu. Sungguh. Aku benci. Aku benci tak bisa
berhenti. Sudah hampir dua tahun memendam perasaan konyol. Konyol sekali.
Aku tak mau seperti ini. Sungguh.
Aku benci mengapa aku tak bisa memikirkan bahwa kau adalah
temanku saja. Hanya teman. Tak lebih. Takkan
pernah lebih.
Setidaknya, terima kasih. Setidaknya. Terima kasih untuk
menjadi kado yang indah di penutup malam ini.
Cerpen tengah malam-
Rabu, 29 Maret 2017
Gbye,March.
Seorang wanita, malam ini tidak tahu
apa yang harus dilakukannya. Ia juga tak tahu harus merasakan perasaan seperti
apa. Sudah beberapa hari ini, sepertinya semua yang ia lakukan terlihat salah.
Ia mencoba melampiaskan semuanya kepada semua buku yang ada di perpustakaan
kampusnya. Dia bisa menghabiskan 450 halaman dalam waktu semalam saja. Hanya
waktu semalam saja. Dan keesokannya ia meminjam buku lagi dan keesokannya pun
tetap sama.
Namun, hari ini, wanita itu semakin
menjadi, entah mengapa dia tak betah berlama-lama di perpustakaan yang dingin.
Padahal dia sudah ditemani banyak teman. Padahal ia biasanya dapat tertawa
ketika mendengar ocehan dari temannya. Tapi, kali ini dia bahkan tak sempat
menghabiskan buku tipis berjumlah 150 halaman saja di perpustakaan. Dia hanya
membaringkan kepalanya di atas tangannya dan menenggalamkan wajahnya di sana.
Hal yang hanya bisa ia rasakan adalah
rasa sakit. Hanya rasa sakit yang tidak jelas harus ia lampiaskan kepada siapa
dan mengapa ia harus merasa sakit?
Wanita ini sungguh bodoh. Sangat amat
bodoh.
Siang itu, ia lelah karena menunggu
sebuah pesan yang tiap membukanya memberikan debaran kencang pada jantungnya,
dan ia yakin ini sudah gila.
Pesan itu membuatnya menjadi tidak
bisa berkonsentrasi terhadap buku yang dibacanya bahkan ocehan teman-temannya.
Kau tahu? Wanita itu bukan tak ingin membalas pesannya,
ia hanya tak tahu bagaimana ini bisa bermula dan mengapa bisa dengan sangat
mudah berakhir.
Namun, wanita itu hanya ingin
mengatakan pada orang yang mengiriminya pesan di jam 12 siang tadi,
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa,
namun aku rasa perasaan ini sungguh sangat mengganggu. Ya. Itu hakmu, sekali
lagi hakmu untuk mengatakan apapun. Kau tahu? Rasanya aku seperti baru saja
bermimpi, kau pernah berkata bahwa kau pasti sangat bodoh bila harus
meninggalkanku. Dan aku dengan mudah mempercayainya sambil tersenyum bukan?
Aku bukan ingin membahas cerita lama yang
kukira fakta. Namun,sepertinya itu hanyalah bualan saja. Kau takkan
menyanggahnya lagi bukan? Karena kau tak bisa membuktikannya padaku.
Mungkin aku yang terlalu naif. Bukan kah itu
yang selalu kaukatakan padaku?
Percayalah, ini tak mudah bagiku. Bagaimana bisa mudah melupakan
semua kenangannya? Aku bahkan masih ingat kapan terakhir menginjakkan kakiku di
stasiun itu, dan bagaimana kaumenyapaku dengan senyuman itu. Ah konyol!
Ya.
Terima kasih karena pernah hadir dan mengantarkanku pulang. Terima kasih karena
selalu menemaniku makan sate di pinggir jalan itu. Dan terima kasih untuk
segalanya, untuk apa yang kaupilih dan kemudian meninggalkanku, terima kasih.
Kaukatakan bahwa seiring waktu akan ada yang lebih baik darimu
yang bisa menggantikanmu, bukan? Kau tahu? Sudah banyak yang datang dan aku
tetap memilihmu bukan?
Bukan karena itu, aku hanya tak bisa menemukan rasa nyaman seperti
saat bersamamu. Aku kadang suka berpikir mengapa itu bisa terjadi.
Kau tahu? Aku terlihat menyedihkan dengan semua ini. Dan aku
sungguh terkejut dengan ucapanmu yang menganggap semua sangat ringan dan
mungkin kau sama sekali tidak terluka.
Maaf, maaf karena sikap kekanak-kanakanku yang merepotkanmu, maaf
karena tiap makan denganmu aku selalu tak habis, kau tahu? Aku selalu merasa
kenyang ketika sudah bertemu denganmu, hihi. Maaf karena sikap egois yang
selalu kutimbulkan di tengah hubungan kita. Maaf karena mencemburui sesuatu
yang kupastikan itu memang patut dicemburui oleh wanita manapun terhadap
pasangannya. Maaf untuk semuanya,ka.
Ini sangat mengejutkan bagiku, terima kasih untuk kejutan ini.
Semoga kamu menemukan apa yang kaucari.
Begitulah kata
wanita itu. Wanita yang pasti akan segera ceria lagi.
Jumat, 10 Maret 2017
Biru
Biru, malam yang pilu.
Wanita dengan hati yang pilu sedang kesepian. Padahal dia sudah punya kekasih.
Malam ini, wanita dengan pita di kepalanya menangis di bawah langit hitam yang tidak terlihat satu pun bintang mengelilinginya.
Salahkah dia jika dia butuh seseorang untuk menjadi tempatnya dalam berkeluh kesah? Salahkah dia jika dia butuh tempat untuk seseorang yang dapat mendengarkan ceritanya?
Baik, Kita kerucutkan saja, Dia butuh kekasihnya. Bukan sahabatnya.
Biru pernah patah hati. Tapi dia selalu bangkit. Dia selalu menghargai dirinya sendiri. Namun, biru selalu merasa bahwa kekasihnya tidak pernah membutuhkannya.
Malam ini saja. Rasanya ia ingin kekasihnya kembali. Bertanya tentang segala sesuatu hal.Namun, nampaknya ia tak mendapatkannya.
Biru tidak membenci kekasihnya, Ia hanya membenci keadannya.
Biru selalu benci ketika warna lain memberikan perhatian kepadanya, bahkan merindukannya.
Biru benci itu.
Biru ingin merasakan rindu dari kekasihnya saja.
Namun, biru hanya mendapatkan kata, bukan rasa.
Malam ini saja, Biru ingin kembali. Biru ingin dimengerti. Namun, kekasihnya malah pergi meninggalkan biru dan enggan mendengarkan Biru. "Saya sedang tidak mood hari ini."
Padahal hanya sebuah kalimat. Namun rasanya sakit ketika terus mengingatnya.
Malam dari Biru.
Langganan:
Postingan (Atom)