Apakah aku masih
boleh untuk merasa seperti ini? Merasa sekujur kaki lemah serasa aliran
darah deras mengalir dan merasa tangan gemetar. Ditambah jantung yang terus
berdebar hanya karenamu.
Karena sebuah kalimat pendek.
Kenapa aku harus begitu? Padahal aku tak perlu merasakan
rasa seperti itu bukan? Kau mungkin menganggap ini biasa saja.
Namun, bagiku mengapa itu sangat berarti.
Aku berani bertaruh semalam aku bahkan sudah ikhlas untuk
takkan mendapat apapun lagi darimu, bahkan sebuah kalimat.
Namun, mengapa di malam terakhir, di tanggal 6 ini, kau
justru hadir dengan sebuah kalimat pendek yang membuatku takut.
Aku benci diriku sendiri, sungguh. Aku benci dengan diriku
yang terus memilih bertahan. Padahal, aku tahu
kau tak mungkin menoleh ke arahku lagi. Tak mungkin.
Takkan pernah mungkin.
Lalu, mengapa sulit bagiku untuk melupakan semua yang
terjadi? Mengapa sulit bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal padamu dalam
pikiranku sendiri?
Aku benci ini. Aku benci
diriku yang sulit memahami situasi bodoh ini.
Aku benci kamu. Sungguh. Aku benci. Aku benci tak bisa
berhenti. Sudah hampir dua tahun memendam perasaan konyol. Konyol sekali.
Aku tak mau seperti ini. Sungguh.
Aku benci mengapa aku tak bisa memikirkan bahwa kau adalah
temanku saja. Hanya teman. Tak lebih. Takkan
pernah lebih.
Setidaknya, terima kasih. Setidaknya. Terima kasih untuk
menjadi kado yang indah di penutup malam ini.
Cerpen tengah malam-