Kamis, 06 April 2017

Thank You, April!

Apakah aku masih  boleh untuk merasa seperti ini? Merasa sekujur kaki lemah serasa aliran darah deras mengalir dan merasa tangan gemetar. Ditambah jantung yang terus berdebar hanya karenamu.
Karena sebuah kalimat pendek.
Kenapa aku harus begitu? Padahal aku tak perlu merasakan rasa seperti itu bukan? Kau mungkin menganggap ini biasa saja.
Namun, bagiku mengapa itu sangat berarti.
Aku berani bertaruh semalam aku bahkan sudah ikhlas untuk takkan mendapat apapun lagi darimu, bahkan sebuah kalimat.
Namun, mengapa di malam terakhir, di tanggal 6 ini, kau justru hadir dengan sebuah kalimat pendek yang membuatku takut.
Aku benci diriku sendiri, sungguh. Aku benci dengan diriku yang terus memilih bertahan. Padahal, aku tahu  kau tak mungkin menoleh ke arahku lagi. Tak mungkin.
Takkan pernah mungkin.
Lalu, mengapa sulit bagiku untuk melupakan semua yang terjadi? Mengapa sulit bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal padamu dalam pikiranku sendiri?
Aku benci ini.  Aku benci diriku yang sulit memahami situasi bodoh ini.
Aku benci kamu. Sungguh. Aku benci. Aku benci tak bisa berhenti. Sudah hampir dua tahun memendam perasaan konyol. Konyol sekali.
Aku tak mau seperti ini. Sungguh.
Aku benci mengapa aku tak bisa memikirkan bahwa kau adalah temanku saja.  Hanya teman. Tak lebih. Takkan pernah lebih.
Setidaknya, terima kasih. Setidaknya. Terima kasih untuk menjadi kado yang indah di penutup malam ini.


Cerpen tengah malam-