Seorang wanita, malam ini tidak tahu
apa yang harus dilakukannya. Ia juga tak tahu harus merasakan perasaan seperti
apa. Sudah beberapa hari ini, sepertinya semua yang ia lakukan terlihat salah.
Ia mencoba melampiaskan semuanya kepada semua buku yang ada di perpustakaan
kampusnya. Dia bisa menghabiskan 450 halaman dalam waktu semalam saja. Hanya
waktu semalam saja. Dan keesokannya ia meminjam buku lagi dan keesokannya pun
tetap sama.
Namun, hari ini, wanita itu semakin
menjadi, entah mengapa dia tak betah berlama-lama di perpustakaan yang dingin.
Padahal dia sudah ditemani banyak teman. Padahal ia biasanya dapat tertawa
ketika mendengar ocehan dari temannya. Tapi, kali ini dia bahkan tak sempat
menghabiskan buku tipis berjumlah 150 halaman saja di perpustakaan. Dia hanya
membaringkan kepalanya di atas tangannya dan menenggalamkan wajahnya di sana.
Hal yang hanya bisa ia rasakan adalah
rasa sakit. Hanya rasa sakit yang tidak jelas harus ia lampiaskan kepada siapa
dan mengapa ia harus merasa sakit?
Wanita ini sungguh bodoh. Sangat amat
bodoh.
Siang itu, ia lelah karena menunggu
sebuah pesan yang tiap membukanya memberikan debaran kencang pada jantungnya,
dan ia yakin ini sudah gila.
Pesan itu membuatnya menjadi tidak
bisa berkonsentrasi terhadap buku yang dibacanya bahkan ocehan teman-temannya.
Kau tahu? Wanita itu bukan tak ingin membalas pesannya,
ia hanya tak tahu bagaimana ini bisa bermula dan mengapa bisa dengan sangat
mudah berakhir.
Namun, wanita itu hanya ingin
mengatakan pada orang yang mengiriminya pesan di jam 12 siang tadi,
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa,
namun aku rasa perasaan ini sungguh sangat mengganggu. Ya. Itu hakmu, sekali
lagi hakmu untuk mengatakan apapun. Kau tahu? Rasanya aku seperti baru saja
bermimpi, kau pernah berkata bahwa kau pasti sangat bodoh bila harus
meninggalkanku. Dan aku dengan mudah mempercayainya sambil tersenyum bukan?
Aku bukan ingin membahas cerita lama yang
kukira fakta. Namun,sepertinya itu hanyalah bualan saja. Kau takkan
menyanggahnya lagi bukan? Karena kau tak bisa membuktikannya padaku.
Mungkin aku yang terlalu naif. Bukan kah itu
yang selalu kaukatakan padaku?
Percayalah, ini tak mudah bagiku. Bagaimana bisa mudah melupakan
semua kenangannya? Aku bahkan masih ingat kapan terakhir menginjakkan kakiku di
stasiun itu, dan bagaimana kaumenyapaku dengan senyuman itu. Ah konyol!
Ya.
Terima kasih karena pernah hadir dan mengantarkanku pulang. Terima kasih karena
selalu menemaniku makan sate di pinggir jalan itu. Dan terima kasih untuk
segalanya, untuk apa yang kaupilih dan kemudian meninggalkanku, terima kasih.
Kaukatakan bahwa seiring waktu akan ada yang lebih baik darimu
yang bisa menggantikanmu, bukan? Kau tahu? Sudah banyak yang datang dan aku
tetap memilihmu bukan?
Bukan karena itu, aku hanya tak bisa menemukan rasa nyaman seperti
saat bersamamu. Aku kadang suka berpikir mengapa itu bisa terjadi.
Kau tahu? Aku terlihat menyedihkan dengan semua ini. Dan aku
sungguh terkejut dengan ucapanmu yang menganggap semua sangat ringan dan
mungkin kau sama sekali tidak terluka.
Maaf, maaf karena sikap kekanak-kanakanku yang merepotkanmu, maaf
karena tiap makan denganmu aku selalu tak habis, kau tahu? Aku selalu merasa
kenyang ketika sudah bertemu denganmu, hihi. Maaf karena sikap egois yang
selalu kutimbulkan di tengah hubungan kita. Maaf karena mencemburui sesuatu
yang kupastikan itu memang patut dicemburui oleh wanita manapun terhadap
pasangannya. Maaf untuk semuanya,ka.
Ini sangat mengejutkan bagiku, terima kasih untuk kejutan ini.
Semoga kamu menemukan apa yang kaucari.
Begitulah kata
wanita itu. Wanita yang pasti akan segera ceria lagi.