Rabu, 29 Maret 2017

Gbye,March.

Seorang wanita, malam ini tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia juga tak tahu harus merasakan perasaan seperti apa. Sudah beberapa hari ini, sepertinya semua yang ia lakukan terlihat salah. Ia mencoba melampiaskan semuanya kepada semua buku yang ada di perpustakaan kampusnya. Dia bisa menghabiskan 450 halaman dalam waktu semalam saja. Hanya waktu semalam saja. Dan keesokannya ia meminjam buku lagi dan keesokannya pun tetap sama.
Namun, hari ini, wanita itu semakin menjadi, entah mengapa dia tak betah berlama-lama di perpustakaan yang dingin. Padahal dia sudah ditemani banyak teman. Padahal ia biasanya dapat tertawa ketika mendengar ocehan dari temannya. Tapi, kali ini dia bahkan tak sempat menghabiskan buku tipis berjumlah 150 halaman saja di perpustakaan. Dia hanya membaringkan kepalanya di atas tangannya dan menenggalamkan wajahnya di sana.
Hal yang hanya bisa ia rasakan adalah rasa sakit. Hanya rasa sakit yang tidak jelas harus ia lampiaskan kepada siapa dan mengapa ia harus merasa sakit?
Wanita ini sungguh bodoh. Sangat amat bodoh.
Siang itu, ia lelah karena menunggu sebuah pesan yang tiap membukanya memberikan debaran kencang pada jantungnya, dan ia yakin ini sudah gila.
Pesan itu membuatnya menjadi tidak bisa berkonsentrasi terhadap buku yang dibacanya bahkan ocehan teman-temannya.
Kau tahu?  Wanita itu bukan tak ingin membalas pesannya, ia hanya tak tahu bagaimana ini bisa bermula dan mengapa bisa dengan sangat mudah berakhir.
Namun, wanita itu hanya ingin mengatakan pada orang yang mengiriminya pesan di jam 12 siang tadi,
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, namun aku rasa perasaan ini sungguh sangat mengganggu. Ya. Itu hakmu, sekali lagi hakmu untuk mengatakan apapun. Kau tahu? Rasanya aku seperti baru saja bermimpi, kau pernah berkata bahwa kau pasti sangat bodoh bila harus meninggalkanku. Dan aku dengan mudah mempercayainya sambil tersenyum bukan?
Aku bukan ingin membahas cerita lama yang kukira fakta. Namun,sepertinya itu hanyalah bualan saja. Kau takkan menyanggahnya lagi bukan? Karena kau tak bisa membuktikannya padaku.
Mungkin aku yang terlalu naif. Bukan kah itu yang selalu kaukatakan padaku?
Percayalah, ini tak mudah bagiku. Bagaimana bisa mudah melupakan semua kenangannya? Aku bahkan masih ingat kapan terakhir menginjakkan kakiku di stasiun itu, dan bagaimana kaumenyapaku dengan senyuman itu. Ah konyol!
 Ya. Terima kasih karena pernah hadir dan mengantarkanku pulang. Terima kasih karena selalu menemaniku makan sate di pinggir jalan itu. Dan terima kasih untuk segalanya, untuk apa yang kaupilih dan kemudian meninggalkanku, terima kasih.
Kaukatakan bahwa seiring waktu akan ada yang lebih baik darimu yang bisa menggantikanmu, bukan? Kau tahu? Sudah banyak yang datang dan aku tetap memilihmu bukan?
Bukan karena itu, aku hanya tak bisa menemukan rasa nyaman seperti saat bersamamu. Aku kadang suka berpikir mengapa itu bisa terjadi.
Kau tahu? Aku terlihat menyedihkan dengan semua ini. Dan aku sungguh terkejut dengan ucapanmu yang menganggap semua sangat ringan dan mungkin kau sama sekali tidak terluka.
Maaf, maaf karena sikap kekanak-kanakanku yang merepotkanmu, maaf karena tiap makan denganmu aku selalu tak habis, kau tahu? Aku selalu merasa kenyang ketika sudah bertemu denganmu, hihi. Maaf karena sikap egois yang selalu kutimbulkan di tengah hubungan kita. Maaf karena mencemburui sesuatu yang kupastikan itu memang patut dicemburui oleh wanita manapun terhadap pasangannya. Maaf untuk semuanya,ka.
Ini sangat mengejutkan bagiku, terima kasih untuk kejutan ini. Semoga kamu menemukan apa yang kaucari.
Begitulah kata wanita itu. Wanita yang pasti akan segera ceria lagi. 



Jumat, 10 Maret 2017

Biru

Biru, malam yang pilu.
Wanita dengan hati yang pilu sedang kesepian. Padahal dia sudah punya kekasih. 
Malam ini, wanita dengan pita di kepalanya menangis di bawah langit hitam yang tidak terlihat satu pun bintang mengelilinginya. 

Salahkah dia jika dia butuh seseorang untuk menjadi tempatnya dalam berkeluh kesah? Salahkah dia jika dia butuh tempat untuk seseorang yang dapat mendengarkan ceritanya?

Baik, Kita kerucutkan saja, Dia butuh kekasihnya. Bukan sahabatnya. 
Biru pernah patah hati. Tapi dia selalu bangkit. Dia selalu menghargai dirinya sendiri. Namun, biru selalu merasa bahwa kekasihnya tidak pernah membutuhkannya. 

Malam ini saja. Rasanya ia ingin kekasihnya kembali. Bertanya tentang segala sesuatu hal.Namun, nampaknya ia tak mendapatkannya. 

Biru tidak membenci kekasihnya, Ia hanya membenci keadannya. 
Biru selalu benci ketika warna lain memberikan perhatian kepadanya, bahkan merindukannya. 
Biru benci itu. 
Biru ingin merasakan rindu dari kekasihnya saja. 
Namun, biru hanya mendapatkan kata, bukan rasa. 

Malam ini saja, Biru ingin kembali. Biru ingin dimengerti. Namun, kekasihnya malah pergi meninggalkan biru dan enggan mendengarkan Biru. "Saya sedang tidak mood hari ini."


Padahal hanya sebuah kalimat. Namun rasanya sakit ketika terus mengingatnya. 







Malam dari Biru. 

Jumat, 03 Maret 2017

Maret

Hai, Maret.
Rasanya sudah lama tak menyapa. Rasanya sudah lama tak bersenda gurau. Rasanya sudah tak sehangat dulu. Rasanya tak seperti dulu.
Hai,Maret.
Tahun lalu, memberikan banyak lukisan yang cantik di tiap harinya. Hai, Maret. Aku rindu. Rindu pada tiap goresan yang kauberikan. Aku rindu menikmati hujan sambil duduk berhadapan denganmu. Aku rindu tersenyum saat membuka pesan darimu. Hanya sebuah kalimat pendek, hanya sebuah kalimat. Aku terlalu menggila.
Hai, Maret.
Aku rindu mendapat pesan singkat darimu. Darimu yang pasti bingung ketika membaca ini, atau bahkan tak sama sekali membaca.
Hai, Maret.
Aku rindu tertawa saat berkirim pesan denganmu, kamu selalu berkata, "Gua ngakak,Njir!"
Hai,Maret.
Aku rindu berlari-lari di tengah hujan untuk menemuimu yang sudah kelamaan menungguku.
Hai,Maret.
Aku rindu, namun aku berani menjadi pengecut untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
Hai,Maret.
Kau tahu? sudah banyak kalimat-kalimat siap kirim, namun tak satu pun sampai padamu, karena aku menghapusnya.
Hai,Maret.
Aku rindu padamu.